Ayah

Belum pernah sampai saat ini, aku menemukan sosok teladan seperti Ayah. Dari kecil, ada banyak hal tentang ayah yang selalu buat mataku berkaca-kaca tiap kali mengingatnya. Terutama tentang kesabarannya. Pernah suatu hari tepatnya saat aku duduk dibangku kelas 3/4 SD, Ibu sedang marah entah lupa karena apa dan di waktu yang sama ayah akan berangkat kerja. Saat itu pekerjaan ayah adalah tukang foto, bahasa kerennya fotografer. Beliau lagi diundang di acara ulang tahun. Ayah berinisiatif untuk mengajakku. Katanya, biar aku berani dan bisa bersosialisasi dengan orang banyak. Padahal itu bukan acara orang yang aku kenal dan pastinya akan bertemu dengan orang-orang asing. Tapi disitu tantangannya untu melatih keberanianku, ia bilang. Kembali ke Ibu yang sedang marah. Saat aku mau berangkat bersama ayah, ia meminta aku untuk pamit ke Ibu yang sedang ada di dapur. Padahal kondisi ibu saat itu sedang marah. Pastinya aku takut dan menolak permintaannya. Dan beliau bilang "Nak, semarah apapun ibumu, dia tetap ibumu, tidak ada satupun yang bisa merubah statusmu dengannya. Dibalik marahnya ada kasih sayang dan pengorbanannya yang begitu banyak untuk kamu. Pamit, walaupun keadaan belum baik". Saat itu aku tidak memiliki opsi apapun selain nurut. Walaupun pada akhirnya setelah pamit, aku nangis karena kena semprot hehe. Tapi ada kelegaan di sini, di hati. Sesampainya di acara, ayahku langsung mengantarkanku ke tempat anak-anak yang diundang berkumpul. Aku hampir nangis karena takut dan malu. Tidak ada satupun orang yang aku kenal di sana. Aku semakin malu, saat mereka saling berbincang dengan begitu asiknya. Ternyata keadaan begini enggak di film-film aja ya. Saat semua bergaun, aku memakain baju main dan jadi orang asing lagi. Aku tahu, sembari memotret acara, bapak diam-diam memperhatikanku. Ini semua ia lakukan hanya ingin memberiku pengalaman dan pelajaran tentang keberanian dan bersosialisasi. 

Padahal banyak banget niatnya yang mau diceritain, tapi 1 aja ini udah banyak. Ngantuk bgt dah bye mau bobo.

Komentar